Keislaman Ali bin Abi Thalib ra. dan
Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi KhalifahAli binAbi Thalib ra. masuk Islam saat
beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, dan ada pula
yang mengatakan sepuluh tahun. Dikatakan bahwa beliau adalah orang yang pertama
kali masuk Islam. Namun yang shahih adalah beliau merupakan bocah yang pertama
kali masuk Islam, sebagaimana halnya Khadijah adalah wanita yang pertama kali
masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak yang pertama kali masuk Islam, Abu
Bakar ra adalah lelaki merdeka yang pertama kali masuk Islam. Ali bin Abi
Thalib ra. Memeluk Islam dalam usia muda disebabkan ia berada di bawah
tanggungan Rasulullah saw. Yaitu pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik
dan kelaparan, Rasulullah saw. mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib
kecil hidup bersama Rasulullah saw. Dan ketika Allah mengutus beliau menjadi
seorang rasul yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahli bait beliau, termasuk
di dalamnya Ali bin Abi Thalib, segera memeluk Islam. Adapun keislaman yang
bermanfaat dan menyebar manfaatnya kepada manusia adalah keislaman Abu Bakar
ash-Shiddiq Diriwayatkan dari Ali bahwa ia berkata, “Aku adalah orang yang
pertama kali masuk Islam.” namun sanadnya tidak shahih. Telah diriwayatkan juga
haditshadits yang semakna dengan ini yang diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, namun
kebanyakan dari hadits itu adalah munkar dan tidak shahih, wallahu
a’lam.Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata,
“Wanita pertama masuk Islam adalah Khadijah, kaum lelaki pertama yang masuk
Islam adalah Abu Bakar dan Ali , hanya saja Abu Bakar menyatakan keislamannya
sementara Ali menyembunyikannya.” Menurut saya, “Yang demikian itu karena ia
takut kepada ayahnya, kemudian ayahnya memerintahkannya supaya mengikuti dan
membela keponakannya.” Ali turut berhijrah setelah Rasulullah saw. keluar dari
kota Makkah. Rasulullah saw. menugaskannya untuk memberaskan hutang piutang
beliau dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian
Ali menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut berhijrah.
Rasulullah saw. mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif .Ibnu Ishaq dan penulis sejarah lainnya
menyebutkan, “Rasulullah saw. mempersaudarakannya dengan diri beliau sendiri.
Telah diriwayatkan banyak hadits tentangnya tapi tidak shahih, karena
sanadnya dhaif. Dan sebagian matannya sangat
ganjil, dalam sebuah matan disebutkan, ‘Engkau adalah saudaraku, pewarisku,
khalifah setelahku, dan sebaik-baik amir sepeninggalku’.” Hadits ini maudhu‘
(palsu) dan bertentangan dengan hadits-hadits yang shahih dalam kitab Shahihain dan
kitab-kitab hadits lainnya. Beliau ikut serta dalam perang Badar dan beliau
memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga turut serta
dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam sayap kanan pasukan
yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair. Beliau juga turut serta dalam
perang Khandaq. Dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan
salah seorang pemberani mereka yang sangat populer, yakni Amru bin Abdi Wud
al-’Amiri. Beliau juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Bai’atur
Ridhwan. Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau
menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan.Allah member kemenangan lewat tangannya.
Dan dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Mirhab al-Yahudi. Beliau
juga turut serta dalam Umrah Qadha’. Pada saat itulah Rasulullah saw. berkata
kepadanya, “Engkau bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.”879 Adapun
kisah yang banyak diceritakan oleh para qushshash (tukang
cerita) bahwa beliau pernah bertarung melawan jin di sumur Dzatul ilmi,880
sebuah sumur di dekat Juhfah, adalah kisah yang tidak ada asal-usulnya. Kisah
itu termasuk kisah yang diada-adakah oleh orang-orang jahil dan tukang cerita,
janganlahterpedaya dengannya. Beliau juga
mengikuti penaklukan kota Makkah, peperangan Hunain dan ath-Thaif. Beliau
berperang dengan gagah berani lalu beliau berumrah bersama Rasulullah saw. dari
al-Ji’ranah. Ketika Rasulullah saw. berangkat ke Tabuk, beliau mengangkatnya
sebagai pengganti beliau di Madinah. la berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai
Rasulullah saw. apakah engkau membiarkan aku bersama kaum wanita dan
anak-anak?” Rasulullah saw. berkata kepadanya, ” Tidakkah engkau ridha
kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya
saja tidak ada nabi setelahku. “881Rasulullah saw. mengutusnya sebagai amir
dan hakim di negeri Yaman bersama dengan Khalid bin al-Walid. Kemudian beliau
menyusul Rasul pada haji wada’ ke Makkah dengan membawa onta korban beliau.
la bertahallul sebagaimana tahallulnya. Rasulullah
saw. dan memberinya bagian dari hewan korban beliau.882 Lalu ia tetap
mengenakan kain ihramnya bersama Rasulullah saw. dan menyembelih hewan korban
bersama beliau setelah menyelesaikan manasik haji. Ketika Rasulullah saw.
sakit, al-Abbas berkata kepadanya, “Tanyalah kepada Rasulullah saw. , siapakah
yang berhak meme-gang kepemimpinan setelah beliau?” Ali berkata, “Demi Allah
aku tidak akan menanyakannya kepada beliau, sebab apabila beliau melarangnya
dari kita maka orang-orang tidak akan menyerahkannya kepada kita
selama-lamanya.”883Hadits-hadits yang shahih dan jelas
menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak mewasiatkan jabatan kekhalifahan
kepadanya ataupun kepada selainnya. Bahkan beliau mengisyaratkan dengan
menyebut Abu Bakar. Beliau member isyarat yang dapat dipahami dan sangat jelas
sekali maksudnya. Seperti yang telah kami sebutkan dalam juz sebelumnya, alhamdulillah884Adapun kebohongan yang dilontarkan oleh
orang-orang jahil dari kalangan Syi’ah dan tukang cerita yang bodoh bahwa
Rasulullah saw. telah mewasiatkan jabatan kekhalifahan kepada Ali jelas
merupakan sebuah kedustaan dan kebohongan yang sangat besar yang menjerumuskan
mereka ke dalam kesalahan yang sangat besar pula. Seperti tuduhan para sahabat
telah berkhianat dan bersepakat menggagalkan wasiat Rasulullah saw. dan
menahannya dari orang yang telah diberi wasiat. Lalu menyerahkannya kepada
orang lain tanpa alasan dan sebab. Setiap mukmin yang beriman kepada Allah dan
RasulNya, meyakini bahwa Dienul Islam adalah haq pasti mengetahui batil-nya
kedustaan ini. Karena para sahabat adalah sebaik-baik manusia setelah para
nabi. Mereka adalah generasi terbaik umat ini yang merupakan umat terbaik di
dunia maupun di akhirat berdasarkan nash al-Qur’an serta berda-sarkan ijma’
salaf dan khalaf, alhamdulillah.Adapun cerita yang disampaikan oleh
orang-orang awam tukang cerita di pasar-pasar tentang wasiat-wasiat yang khusus
diberikan kepada Ali dalam hal adab (etika), akhlak, adab makan dan minum, adab
berpakaian, seperti cerita mereka, “Wahai Ali, janganlah pakai imamah (sorban)
sambil duduk. Wahai Ali, janganlah pakai celanamu sambil berdiri. Wahai Ali,
janganlah memegang tiang pintu. Dan janganlah duduk di depan pintu. Janganlah
menjahit pakaian yang sedangeng kau kenakan.” Dan wasiat-wasiat sejenis-nya.
Semua itu adalah cerita kosong yang tidak ada asal-usulnya. Bahkan termasuk
dusta, bohong dan palsu.Kemudian, ketika Rasulullah saw. wafat,
Ali termasuk salah seorang yang memandikan, mengkafani dan mengebumikan jenazah
Rasulullah saw. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq dibai’at menjadi khalifah pada
hari Saqifah, Ali termasuk salah seorang yang berbai’at di masjid, seperti yang
telah kami jelaskan sebelumnya.885 Abu Bakar ash-Shiddiq dalam pandangan Ali
bin Abi Thalib ra. sama seperti para umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya,
beliau berpandangan mentaati Abu Bakar merupakan kewajibannya dan merupakan
perkara yang paling ia sukai. Ketika Fathimah wafat enam bulan setelah
Rasulullah saw. ketika itu ia kurang puas terhadap beberapa keputusan Abu Bakar
disebabkan warisan yang tidak ia peroleh dari ayahnya. Ia belum mengetahui nash
khusus dalam masalah ini bagi para nabi, yakni mereka tidak mewariskan harta
warisan kepada sanak famili.Ketika hal itu sampai kepadanya ia
me-minta kepada Abu Bakar agar mengangkat suaminya sebagai pengawas sedekah
(harta warisan) tersebut, akan tetapi Abu Bakar menolaknya. Maka ia terus
memendam ketidakpuasan terhadap Abu Bakar seperti yang telah kami jelaskan
terdahulu. Maka Ali berusaha mengambil hati istrinya. Setelah Fathimah wafat,
Ali memperbaharui kembali bai’atnya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq Ketika Abu
Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar
kepadanya, Ali bin Abi Thalib ra. termasuk salah seorang sahabat yang membai’at
Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya.
Disebutkan bahwa Umar memintanya menjadi qadhi (hakim) pada masa
kekhalifahannya. Beliau menyertai Umar bersama para tokoh dari kalangan sahabat
ke negeri Syam dan menghadiri khutbah Umar di al-Jabiyah.Ketika Umar ditikam dan beliau
menyerahkan urusan musyarawah kepada enam orang sahabat, salah seorang di
antaranya adalah Ali bin Abi Thalib ra. Lalu mereka menetapkan dua orang calon,
yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali
tetap mendengar dan taat kepada Utsman.